Rex Regum Qeon (RRQ) tengah menghadapi salah satu fase terberat dalam sejarah panjang mereka di skena kompetitif Mobile Legends. Di MPL ID Season 17, khususnya hingga pekan keempat, RRQ Hoshi belum juga menemukan satu pun kemenangan. Kondisi ini terasa sangat janggal bagi tim yang selama ini dijuluki sebagai “King of Kings”. Masalah RRQ saat ini bukan sekadar soal hasil akhir di papan klasemen, melainkan kombinasi antara penurunan performa teknis, krisis identitas tim, hingga tekanan besar dari basis penggemar yang mulai kehilangan kepercayaan.
Pola Kekalahan yang Mengkhawatirkan
Jika ditelusuri lebih dalam, kekalahan RRQ sering kali bukan terjadi karena mereka sepenuhnya kalah kelas sejak awal. Justru dalam beberapa pertandingan, mereka mampu unggul di fase early hingga mid game. Namun, keunggulan tersebut hampir selalu gagal dikonversi menjadi kemenangan akibat masalah fatal di fase late game. Decision making yang buruk, positioning tidak disiplin, hingga blunder saat perebutan Lord menjadi pola yang terus berulang.
Situasi ini mengindikasikan bahwa RRQ kehilangan elemen vital berupa kepemimpinan di dalam gim (in-game leadership). Tanpa sistem shotcalling yang mampu mengarahkan keputusan di momen krusial, keunggulan mekanik individu menjadi sia-sia. RRQ seakan bermain tanpa blueprint yang solid, lebih mengandalkan improvisasi reaktif alih-alih strategi terstruktur yang menjadi ciri khas mereka di masa kejayaan.
Hilangnya Identitas Permainan dan Tekanan Mental
Dulu, RRQ dikenal sebagai tim dengan gaya bermain agresif namun tetap terstruktur. Kini, identitas tersebut seakan menghilang dengan draft pick yang tidak memiliki arah jelas serta eksekusi yang tidak sinkron. Losing streak yang panjang juga membawa dampak psikologis signifikan bagi para pemain, di mana mereka cenderung bermain untuk menghindari kesalahan daripada bermain untuk menang.
Selain performa di lapangan, RRQ juga diterpa kontroversi setelah pengumuman duta merek (brand ambassador) baru yang menuai reaksi keras dari komunitas. Langkah ini berdampak langsung pada hilangnya puluhan ribu pengikut di media sosial dalam waktu singkat, menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang mendalam terhadap kebijakan manajemen organisasi.
Pernyataan Realistis CEO di Tengah Badai

Tekanan kini berada di pundak sang CEO, Andrian Pauline (AP). Dalam sebuah pernyataan melalui media sosial, AP secara terbuka mengakui bahwa performa tim tidak sesuai harapan meskipun para pemain telah bekerja keras. Ia menyebut bahwa hasil latihan (scrim) sebenarnya cukup baik, namun gagal diterjemahkan ke dalam pertandingan resmi. "Kita benar-benar sudah kerja keras, hasil scrim juga bagus. Kenyataannya tidak sesuai harapan. Gak ada alasan, kalah ya kalah," tegasnya.
AP juga bersikap realistis mengenai peluang playoff yang semakin mengecil dan mengakui kebingungan dalam mencari solusi instan, mengingat minimnya pemain atau pelatih berkualitas yang tersedia di tengah musim berjalan. Meski begitu, ia memastikan bahwa tim tidak akan menyerah begitu saja dan tetap akan berjuang hingga pekan terakhir fase reguler.
Jalan Keluar: Reset atau Tenggelam
RRQ masih memiliki waktu untuk bangkit, namun langkah yang diambil tidak bisa setengah-setengah. Evaluasi roster menjadi hal yang tidak terelakkan lagi; promosi pemain dari tim MDL atau rotasi lineup yang radikal mungkin diperlukan untuk menemukan komposisi baru yang lebih solid. Selain teknis, perbaikan sistem permainan dan manajemen hubungan dengan fan menjadi prioritas untuk memulihkan citra organisasi.
Kondisi RRQ saat ini adalah cerminan dari krisis ganda antara performa yang menurun dan citra yang terguncang. Jika dibiarkan, ini bisa menjadi awal dari penurunan jangka panjang. Namun, sejarah menunjukkan bahwa momen terendah sering kali menjadi titik balik bagi tim besar untuk melakukan reformasi total dan kembali ke puncak takhta tertinggi.