Home

News

Esports

Lifestyle

Other

Industry

IGRS Jadi Sorotan, Pemerintah Bakal Selidiki Kisruh Rating Usia Game di Steam

Michael - Rabu, 08 April 2026 15:22:15

Pemerintah Indonesia resmi membuka investigasi terkait kekacauan rating usia yang terjadi di platform distribusi game populer, Steam. Insiden ini mencuat setelah sejumlah game menampilkan label usia yang tidak akurat, memicu kebingungan sekaligus kemarahan di kalangan gamer Tanah Air.

Beberapa hari sebelum pengumuman investigasi, berbagai judul game di Steam diketahui menggunakan label usia yang keliru. Platform tersebut sempat mengaitkan kesalahan ini dengan sistem klasifikasi milik pemerintah, yaitu Indonesia Game Rating System (IGRS).

Menanggapi polemik tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengonfirmasi telah menjalin komunikasi dengan pihak Steam untuk menelusuri akar permasalahan. Direktur di kementerian, Sonny Hendra Sudaryana, menyebut investigasi akan dilakukan secara internal maupun bersama pihak platform.

Mekanisme IGRS dan Dugaan Sumber Masalah

Dalam penjelasannya, pemerintah menegaskan bahwa IGRS menggunakan sistem verifikasi berlapis yang melibatkan self-assessment dan self-declaration dari pengembang atau penerbit game. Artinya, pengisian data awal tetap bergantung pada pihak developer sebelum melalui proses validasi lebih lanjut.

Sonny menyatakan bahwa kesalahan seperti ini seharusnya dapat dihindari jika seluruh prosedur dijalankan dengan benar. Pemerintah juga membuka peluang untuk melibatkan komunitas, asosiasi, serta pelaku industri game dalam proses investigasi guna mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh.

Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian terkait timeline penyelesaian investigasi tersebut.

Kasus Salah Rating yang Jadi Sorotan

Kisruh ini semakin menjadi perhatian publik setelah sejumlah game menampilkan rating yang tidak sesuai dengan kontennya. Salah satu contoh yang mencolok adalah Upin & Ipin Universe yang justru diberi label 18+, meskipun merupakan game petualangan ramah keluarga.

Sebaliknya, visual novel Nukitashi yang dikenal memiliki konten dewasa, sempat ditandai sebagai game yang dapat dimainkan oleh anak usia 3 tahun. Perbedaan ekstrem ini memperkuat anggapan bahwa terjadi kesalahan sistemik dalam penentuan rating.

Pihak pemerintah sendiri mengakui bahwa insiden ini tergolong tidak biasa dan bahkan “ekstrem”, sejalan dengan reaksi keras dari warganet.

Steam Ambil Langkah Sementara

Sebagai respons awal, Steam yang dikembangkan oleh Valve Corporation telah mencabut sementara tampilan rating IGRS dari platformnya. Sebagai gantinya, beberapa game kini menampilkan sistem klasifikasi dari Pan European Game Information.

Steam juga mengingatkan bahwa ke depannya, game yang tidak memiliki rating usia valid berpotensi tidak ditampilkan bagi pengguna di Indonesia. Meski begitu, pengguna yang sudah membeli game sebelumnya tetap dapat mengakses dan memainkannya seperti biasa.

Perdebatan Tanggung Jawab dan Sistem Self-Declare

Di tengah investigasi, muncul perbedaan pandangan terkait pihak yang bertanggung jawab. Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa rating yang tampil di Steam belum melalui verifikasi resmi IGRS, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan hasil klasifikasi yang sah.

Sebaliknya, sistem di Steam memungkinkan developer untuk melakukan self-declare terhadap konten game mereka. Mekanisme ini membuka kemungkinan terjadinya kesalahan input atau interpretasi data yang berujung pada label usia yang tidak sesuai.

Dalam panduan IGRS sendiri, developer diwajibkan menampilkan konten paling “ekstrem” dalam game—termasuk unsur kekerasan, alkohol, hingga narkotika—sebagai dasar penilaian. Jika proses ini tidak dijalankan dengan benar, maka hasil rating pun berpotensi melenceng.

Menunggu Hasil Investigasi

Kasus ini menjadi sorotan penting dalam ekosistem industri game di Indonesia, terutama terkait akurasi dan transparansi sistem rating. Kepercayaan pengguna terhadap platform maupun regulator menjadi taruhan utama dalam insiden ini.

Hingga saat ini, publik masih menunggu hasil investigasi yang diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus solusi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Baca Artikel Asli