Fenomena PHK Besar-besaran di Industri Game: Lebih dari Seperempat Pengembang Kehilangan Pekerjaan
Foto Unsplash / Mohammad Rahmani
Other

Fenomena PHK Besar-besaran di Industri Game: Lebih dari Seperempat Pengembang Kehilangan Pekerjaan

Aldonov Danoza - Jumat, 30 Januari 2026
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Industri video gim global saat ini tengah menghadapi krisis ketenagakerjaan yang sangat signifikan dan memprihatinkan. Berdasarkan survei State of the Game Industry terbaru yang dirilis oleh Game Developers Conference (GDC) pada awal tahun 2026, tercatat lebih dari 28% pengembang gim di seluruh dunia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Angka ini bahkan melonjak hingga 33% jika hanya merujuk pada responden di Amerika Serikat, yang menunjukkan betapa besarnya dampak dinamika ekonomi serta perubahan struktural pada pasar kerja industri kreatif teknologi saat ini.

Survei yang melibatkan lebih dari 2.300 profesional dari berbagai latar belakang, mulai dari pengembang indie hingga studio AAA, memberikan gambaran yang suram. Sebanyak 17% responden melaporkan terkena PHK dalam 12 bulan terakhir, sementara 11% lainnya kehilangan pekerjaan pada periode 12 bulan sebelumnya. Statistik ini diduga kuat merupakan angka minimal, mengingat banyak pekerja yang kemungkinan mengalami pemutusan hubungan kerja lebih dari satu kali dalam siklus ekonomi yang tidak stabil ini.

Pasar Kerja yang Sempit dan Sulitnya Mencari Posisi Baru

Hal yang paling mengejutkan dari data tersebut adalah kenyataan bahwa hampir setengah dari pengembang yang terdampak PHK masih kesulitan menemukan pekerjaan baru. Sekitar 48% dari mereka yang baru saja diberhentikan belum mendapatkan posisi pengganti, dan 36% dari pengembang yang dipecat 1-2 tahun lalu masih dalam status pencarian kerja aktif. Kondisi ini mencerminkan pasar tenaga kerja yang sangat sempit dan kompetitif, di mana ketersediaan posisi baru tidak sebanding dengan jumlah tenaga ahli yang tersedia di pasar.

Penyebab utama dari gelombang PHK ini sangat beragam, namun mayoritas responden menunjuk pada restrukturisasi perusahaan, pemotongan anggaran besar-besaran, serta pembatalan proyek gim utama. Tekanan terhadap performa finansial dan perubahan strategi bisnis pasca-pandemi memaksa banyak studio untuk merampingkan staf mereka guna menjaga arus kas. Beberapa pengembang bahkan secara anonim mengkritik kegagalan kepemimpinan eksekutif dalam mengantisipasi perubahan pasar serta tekanan investor yang terlalu fokus pada pengembalian modal cepat.

Dampak pada Pendidikan dan Calon Tenaga Kerja Baru

Situasi sulit ini ternyata tidak hanya menghantam mereka yang sudah berpengalaman, tetapi juga menciptakan awan mendung bagi calon tenaga kerja baru. Sekitar 60% pendidik yang berpartisipasi dalam survei menyatakan kekhawatiran bahwa iklim industri saat ini akan sangat mempersulit peluang lulusan baru untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka. Minimnya kepercayaan terhadap stabilitas industri membuat para siswa dan pencari kerja muda merasa ragu untuk meniti karier di sektor yang sebelumnya dianggap sangat menjanjikan ini.

Data historis menunjukkan tren PHK yang terus meningkat secara drastis dari tahun ke tahun. Tercatat sekitar 8.500 pekerja kehilangan pekerjaan pada 2022, angka tersebut naik menjadi 10.500 pada 2023, dan melonjak tajam menjadi 14.600 pada 2024. Hingga awal 2025, tercatat sudah ada sekitar 5.300 pekerja yang diberhentikan, menggambarkan bahwa tekanan ekonomi dan perubahan model bisnis masih menjadi tantangan serius bagi stabilitas lapangan kerja di industri gim.

Masa Depan Industri di Tengah Ketidakpastian Karir

Meskipun beberapa perusahaan besar tetap merencanakan proyek-proyek inovatif dan ambisius, rasa ketidakpastian yang kuat masih menyelimuti sebagian besar pekerja di sektor ini. Kemampuan untuk beradaptasi serta penguasaan keterampilan lintas disiplin kini menjadi modal utama yang harus dimiliki agar dapat bertahan di tengah industri yang terus berubah. Ketidakstabilan ini menuntut adanya dialog yang lebih intens antara pengembang dan pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Industri gim saat ini tidak hanya ditantang untuk terus melahirkan kreativitas dan kemajuan teknologi, tetapi juga bagaimana cara menjaga aset terpenting mereka, yaitu sumber daya manusia. Tanpa adanya stabilitas kerja, dikhawatirkan akan terjadi eksodus talenta berbakat ke industri teknologi lainnya, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan inovasi gim di masa depan. Stabilitas ekonomi dan perlindungan terhadap pekerja harus menjadi prioritas utama agar industri ini tetap dapat berkembang di tengah dinamika pasar global yang kejam.

Bagikan
Ditulis Oleh

Aldonov Danoza

Berita Terkait