Studio pengembang gim asal Kanada, Eidos Montreal, kembali menjadi sorotan tajam setelah mengumumkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Keputusan pahit ini diiringi dengan kabar mengejutkan mengenai mundurnya kepala studio, David Anfossi, sosok veteran yang telah memimpin perjalanan perusahaan selama lebih dari satu dekade.
Dalam pernyataan resminya pada awal April 2026, Eidos Montreal mengonfirmasi bahwa sebanyak 124 karyawan terdampak PHK, mencakup berbagai divisi mulai dari tim produksi hingga staf pendukung. Perusahaan menyebut langkah drastis ini sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kebutuhan proyek yang terus berubah, sekaligus upaya efisiensi sumber daya pada area yang dianggap paling krusial.
Krisis Tenaga Kerja dalam Tiga Tahun Terakhir
PHK terbaru ini menambah daftar panjang pengurangan tenaga kerja di Eidos Montreal yang seolah tak kunjung usai. Catatan internal menunjukkan tren penurunan jumlah karyawan yang sangat mengkhawatirkan sejak tahun 2024:
Tahun 2024: Melepas sekitar 97 karyawan.
Tahun 2025: Pengurangan kembali sebanyak 75 karyawan.
Tahun 2026: Gelombang terbaru berdampak pada 124 karyawan.
Dengan demikian, total hampir 300 pekerja telah kehilangan pekerjaan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Pihak studio menegaskan bahwa keputusan ini tidak mencerminkan performa individu para pekerja, melainkan murni akibat tekanan finansial dan perubahan arah bisnis dari perusahaan induk mereka, Embracer Group.
Dampak Restrukturisasi Embracer Group dan Pembatalan Proyek
Situasi di Eidos Montreal tidak lepas dari krisis yang dialami Embracer Group sejak pertengahan 2023. Setelah kegagalan kesepakatan pendanaan raksasa senilai 2 miliar dolar AS, Embracer melakukan restrukturisasi agresif dengan memangkas biaya operasional dan membatalkan sejumlah proyek ambisius.
Eidos Montreal, yang sebelumnya sukses lewat seri Deus Ex dan Marvel’s Guardians of the Galaxy, menjadi salah satu korban utama. Laporan menyebutkan bahwa proyek gim Deus Ex terbaru serta sebuah proyek open-world yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun akhirnya resmi dibatalkan. Hal ini memaksa studio beralih peran menjadi co-developer untuk proyek pihak lain, seperti membantu pengembangan Fable bersama Playground Games dan Grounded 2 bersama Obsidian Entertainment.
Kepergian Sang Nahkoda David Anfossi

Di tengah ketidakpastian ini, mundurnya David Anfossi menambah beban moral bagi studio. Bergabung sejak awal berdirinya Eidos Montreal pada 2007 dan menjabat sebagai pimpinan sejak 2013, Anfossi adalah arsitek di balik kesuksesan judul-judul besar AAA milik studio tersebut. Kepergiannya meninggalkan lubang kepemimpinan yang besar di saat studio sangat membutuhkan stabilitas.
Fenomena yang terjadi di Eidos Montreal mencerminkan tren kelam industri gim global tahun 2026, di mana biaya produksi yang semakin melambung tinggi dan ketidakpastian pasar memaksa banyak studio besar melakukan efisiensi besar-besaran. Kini, masa depan Eidos Montreal sebagai pengembang mandiri masih menjadi tanda tanya besar di tengah transformasi industri yang brutal ini.